Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah, Kesakralan dan Kegiatan yang dilakukan ketika Malam 1 Suro

Menurut sejarahnya, penanggalan 1 Suro di kalender Jawa dahulunya dipakai oleh sultan Mataram dibawah pimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1633 M atau 1555 saka/jawa yaitu dengan penggabungan penanggalan kalender Islam, kalender masehi, dan Hindu.

Seperti dikutip menelusuri.com, kata Suro berasal dari kata "asyura" yang dalam bahasa Arab itu berarti "sepuluh", tanggal 10 bulan Muharram. 

Bulan Suro sangat identik dengan suasana sakral dikarenakan arti penting 10 hari pertama bulan suro dan dari 29 atau 30 di bulan Muharram itu yang dianggap paling keramat yaitu 10 hari pertamanya.

Malam 1 Suro, dalam budaya Islam Jawa biasanya diperingati pada malam hari setelah maghrib di hari sebelum tanggal 1 Suro, karena dalam kalender Jawa pergantian hari dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya dan bukan tengah malam seperti pergantian hari dalam kalender masehi.

Kesakralan malam 1 Suro yaitu karena bulan suro merupakan bulan yang agung dan mulia sehingga dalam kepercayaan masyarakat ini dipercayai jika hamba atau manusia terlalu lemah untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan diluar keagamaan seperti hajatan, karena yang dianggap hamba yang kuat yaitu raja atau sultan, sehingga bulan suro dianggap sebagai bulan hajatan bagi keraton dan apabila rakyat biasa melakukannya maka akan kualat. Ini dikarenakan dahulunya keraton sering mengadakan upacara dan ritual untuk peringatan hari-hari penting.

Selain itu, ada juga pantangan-pantangan yang tidak boleh di lakukan seperti mengadakan pernikahan, tidak boleh keluar rumah, dan lain-lain, untuk lebih lengkapnya bisa mengunjungi -> Perayaan dan 4 Pantangan Di Bulan Suro, Sejarah 1 Suro

Pada malam 1 Suro juga biasanya diadakan ritual tradisi iring-iringan rombongan masyarakat, ada yang melakukan pembacaan doa dari semua umat yang hadir merayakannya, yang bertujuan untuk mendapatkan berkah dan menangkal datangnya marabahaya.

Namun ada juga yang melakukan penyucian atau pembersihan benda pusaka atau kegiatan lainnya seperti jamasa pusaka, ruwatan, serta sesajen agung atau laku tapa brata.

Post a Comment for "Sejarah, Kesakralan dan Kegiatan yang dilakukan ketika Malam 1 Suro"